Apa Sih Tujuan Hidupmu?

Views: 80

Sebenarnya tujuan hidup kita itu apa sih ?
Ini adalah sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam pikiran kita, dan membuat kita bingung dan berpikir keras. Sebab banyak dari kita yang masih belum tahu jawaban atas pertanyaan tersebut.

Al-Qur’an, sebagai sebuah pedoman hidup kita telah telah menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Seperti matan hadist yang berbunyi: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Adapun dua komponen utama dari beribadah adalah cinta dan ikhlas. Tanpa kedua komponen ini, maka segala aktivitas ibadah yang kita lakukan akan terasa hampa tidak bermakna. Meski demikian, terkadang kita sering kali beribadah hanya karena takut akan siksa Allah SWT kelak di akhirat atau semata hanya menginginkan surga belaka tanpa memahami apa esensi dari ibadah tersebut. Contohnya; shalat. Banyak dari kita yang mengerjakan shalat hanya karena itu sebuah kewajiban. Padahal shalat sebenarnya merupakan ibadah untuk mengasah diri menuju maqam ihsan. Selain melaksanakan shalat, penting bagi kita untuk memahami bagaimana hakikat dan fungsi shalat, serta cara membangun shalat sebagai perjalanan ruhani menuju Allah. Aspek-aspek penting dalam esensi shalat antara lain yaitu sebagai perjalanan ruhani, shalat disini bukan sekedar gerakan seperti ruku’, sujud, tetapi juga merupakan perjalanan ruhani yang menuju pada Allah dan ada juga shalat sebagai transformasi sosial, dimana setiap kita selesai shalat, kita (manusia) harus menjalankan peran kekhalifahannya dengan melakukan transformasi sosial, merealisasikan misi Rasulullah saw sebagai rahmatan lil ‘Alamin dengan membangun tatanan kehidupan dunia yang aman, adil dan sejahtera. Ketika tujuan kita shalat bukan karena Allah, tetapi karena ingin masuk surga. Maka itu keliru. Niatkan tujuan kita beribadah adalah lillahi ta’ala atau semata-mata karena Allah. Dimana ada salah satu kutipan doa dari Rabiah Al Adawiyyah yang berbunyi “Ya Allah jika aku beribadah karena mengharap surgaMu, maka masukkan aku ke dalam neraka. Tapi jika aku beribadah karena takut nerakaMu, maka jauhkan aku dari surgaMu. Tapi jika aku beribadah hanya karena-Mu, maka jangan palingkan pandanganMu terhadapku ya Allah”. Dalam doanya tersebut beliau mengungkapkan kecintaan yang sangat murni kepada Allah. Kecintaan tersebut sama sekali bukan kecintaan karena mengharapkan surga-Nya atau takut neraka-Nya. Hal ini membuat kita tertampar, dimana posisi keikhlasan dalam beribadah kita saat ini? Masih sangat kurang bukan?

Cinta dan ikhlas juga berlaku dalam melakukan segala hal dalam hidup. Jika kita mencintai sesuatu, kita akan melakukannya dengan sepenuh hati dan tanpa mengeluh. Sebaliknya, jika kita melakukan sesuatu tanpa cinta dan ikhlas, hasilnya mungkin tidak akan maksimal. Perumpamaan sederhananya seperti kita mencintai seseorang, jarak jauh pun kita tempuh jika kita ingin bertemu dengan orang yang kita cintai, rasa lelahnya pun akan hilang. Begitu juga dengan cinta kepada Allah, sesulit apapun jalannya pasti akan kita tempuh demi menggapai ridho-Nya.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menyayangi siapapun yang ada di muka bumi. Sebagaimana sabda beliau, ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ. Artinya: “Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit” (HR At-Tirmidzi no. 1924). Dalam hadits tersebut sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk menyayangi semua yang ada di muka bumi ini. Semua yang di maksud adalah keseluruhan, bukan hanya sesama manusia saja tapi hewan, tumbuhan, benda mati, dan juga masih banyak lagi lainnya. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa inti dari hidup adalah cinta. Kita hanya bisa menyayangi jika kita mencintai, dan kita tidak bisa menyayangi tanpa cinta.

Jadi, tujuan hidup sebenarnya adalah mencari dan menemukan cinta. Ketika kita sudah menemukan cinta, baik itu cinta kepada Allah, cinta kepada sesama, atau cinta kepada diri sendiri, kita akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Cinta juga membuat kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan tidak akan ada kata sedih ataupun susah jika kita telah benar-benar menemukannya. Sedih yang dimaksud adalah dalam urusan dunia. Bahkan orang-orang yang menemukan cinta dalam hidupnya, Tuhan-Nya akan sedih jika dia lalai sedikitpun dalam ibadahnya. Karena cinta maka tenanglah ibadah. Banyak contoh-contoh kecil yang sering kali kita temui di sekitar kita. Seperti; ada orang kurang mampu namun dia tetap bahagia saja. Itu karena mereka bahagia dan cinta dengan takdirnya maka Allah memberi mereka kecukupan. Kecukupan yang dimaksud bukanlah harta, tapi kecukupan ini adalah sesuatu yang kita dapatkan sedikit namun bermanfaat dan juga dapat dirasakan oleh orang banyak.
Wallahu’alam….

Oleh : Julyan Dwining Wasilah
Mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
UIN Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *