Teori Interpretation Hermeneutika Jorge J. E. Gracia

Views: 98
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT di Mekkah dan menggunakan bahasa Arab, sedangkan objeknya adalah seluruh umat manusia di berbagai daerah yang tidak menggunakan bahasa Arab. Mesti ada beberapa pendekatan untuk sampai pada pemahaman dari sebuah teks. Dengan berbagai isu kontemporer yang konteksnya berbeda dengan apa yang diceritakan dalam Al-Qur’an, maka hadirlah para intelektual agama yang memahami dari segi kebahasaan Al-Qur’an dan sangat memperhatikan asbabun Nuzul dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hal ini seorang filosuf Jorge Gracia hadir dalam untuk turut memberikan gagasan tetang penafsiran Al-Qur’an agar relevansi digunakan di era kontemporer.
Biografi Jorge Gracia
Memiliki nama lengkap Jorge J.E Gracia, ia merupakan seorang professor pada Departemen Filsafat dan Sastra Perbandingan di Universitas Negeri New York Buffalo sekaligus seorang filosuf yang menekuni bidangnya secara mendalam. Gracia lahir di negara Kuba pada tahun 1942. Riwayat pendidikannya diselesaikan dengan undergraduate program dengan mendapat gelar B.A dalam bidang filsafat di Wheaton College saat beliau masih berumur 23 tahun. Lalu dia melanjutkan studi graduate programnya (M.A) di Universitas Chicago dalam bidang yang sama pada tahun 1966. Ia menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Toronto dalam bidang yang sama pula pada tahun 1971.
Selain menjadi filosof, Gracia juga menjadi Asisten Profesor Filsafat pada State University of New York (SUNY) di Buffalo sejak tahun 1971-1976 hingga menjadi Profesor Tamu Filsafat di Akademie fur Internationale Philosophie, Liechtenstein tahun 1998 dan graduate Adjunct Professor dari Shandong University pada tahun 2009. Ia juga tercatat mendapatkan beragam pernghargaan dari dalam negeri maupun mancanegara dalam studi filsafat.  Ia juga telah menerima banyak penghargaan, misalnya dalam studi Metafisika, ia meraih John N. Findlay Prize yang diberikan oleh the Metaphysical Society of America pada 1992; Aquinas Medal dari University of Dallas, pada 1 Februari 2002. Dalam bidang pendidikan, ia meraih Teaching and Learning Award tahun 2003 dari University at Buffalo, juga 67th Aquinas Lecture di Marquette University tahun 2003 dan lain sebagainya.
  Setelah mengetahui sejarah pendidikan Gracia tidak diragukan lagi bahwa dia sangat ahli dalam bidang filsafat, seperti; metafisika/ontology, historiografi filosofis, filsafat bahasa/hermeneutika, dan cabang ilmu filsafat lainnya. Selain itu, ia memberikan perhatian yang cukup besar terhadap masalah etnitas, identitas, nasionalisme, dan lain sebagainya. Ia juga telah menulis 40 buku karyanya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu filsafat dengan berbagai topik pembahasan dan banyak karya-karyanya yang akhir-akhir ini difokuskan pada isu-isu ras, etnis, dan identitas. Kerena tiga hal tersebut berpengaruh besar pada hasil pemahaman mufasir mengenai suatu teks.
A. Teori Interpretasi Jorge Gracia
Bicara mengenai sebuah penafsiran, baik klasik maupun kontemporer tidak terlepas dari tiga hal, yaitu: teks, konteks, dan kontekstualisasi. Dari tiga hal tersebut seorang penafsir harus memiliki pemahaman (understanding) terhadap kondisi sosial atau objek dari sebuah penafsiran. Karena tujuan penafsiran sendiri adalah bagaimana suatu hukum dapat diterima oleh masyarakat, maka tidak dapat dipungkiri bahwa realisasi penafsiran sendiri sangat bervariasi, selama tidak merubah makna inti dari sebuah teks.
Dapat disimpulkan bahwa suatu hermenetika berkonsentrasi pada hubungan teks, dan mufassir (kritikus teks). Dengan demikian Gracia hadir dengan gasasan dan pemikiran kritisnya dalam memahami teks-teks kitab suci. Ia tidak lepas memperhatikan makna teks, pengarang (author) audiens kontemporer, dan historis. Bagi Gracia, hermenetika harus memperhatikan historical teks, bagaimana kontekstual saat teks tersebut ditulis, dan pastinya memiliki banyak perbedaan dengan keadaan pada saat ini. Jika suatu teks diterima begitu saja tanpa ada pendekatan kontekstual kontemporer, maka pesan-pesan yang terkandung dari teks tersebut tidak akan sampai pada pemahaman pembaca.
Sebuah pemahaman (understanding) dari audiens ke audiens lain berpotensi adanya perbedaan. Dan dari pemahaman yang berbeda ini pula akan banyak perbedaan dalam penyampaian kepada audiens lain. Oleh sebab itu, Gracia mulai mengelompokkan seputar pemahaman: pertama, apakah pengertian yang berbeda seperti ini selalu dianggap sebagai kesalahpahaman; dan kedua, apakah pemahaman mereka masih bisa dianggap benar.
Bagi Gracia kedua pertanyaan tersebuat bersifat ambigu, dan untuk menjawab ini seorang pembaca memang tidak bisa terlepas dari sejarang penulis (historical author) dari teks yang dipahami. Dua pertanyaan ini seringkali menjadi perdebatan dikalangan audiens dan tentunya pertentangan seperti ini realitanya memang sering terjadi. Maka dari itu teori interpretasi menjadi penting agar bisa mengimplementasikan teks kitab suci bagi isu-isu kontemporer.
Pengertian dan Pembagian Teori Interpretation
Interpretation adalah sebuah kosakata dari bahasa Inggris yang diambil dari kata “interpretatium” dalam bahasa latin yang berasal dari kata interpress yang bermakna “to spred abroad” atau “penyebaran dengan luas”. Dalam bahasa Inggris kata interpretation tidak hanya diartikan sebagai sebuah penafsiran juga, melainkan juga memiliki beberapa term yang dapat diselesaikan dengan permasalahan yang ada.
Terdapat tiga makna lain dari Interpretation, yaitu;
1. Meaning, memberi arti dari segala sesuatu yang ditafsirkan.
2. Translation, menerjemahkan sesuatu dari suatu bahasa ke bahasa lainnya.
3. Explanation, menjelaskan atas segala sesuatu tentang apa yang ada di dalam sebuah teks.
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa semua makna merujuk pada 3 faktor yang berbeda-beda sedang memainkan peran masing-masing dalam sebuah aktivitas interpretasi atau pemahaman suatu teks, yaitu;
1. Interpretendum (teks yang akan diinterpretasikan).
2. Penafsir.
3. Interpretans (keterangan tambahan)
Interpretendum adalah teks historis, sedangkan interpretans memuat tambahan tambahan ungkapan yang dibuat oleh penafsir sehingga interpretandum lebih dapat dipahami. Akan tetapi “tambahan keterangan” harus digabungkan dengan teks asli yang menjadi sumber bahan kajian agar dapat dikatakan sebagai Interpretasi. Contohnya: penafsiran ayat Al-Qur’an dari penafsiran at-Thabari mengenai ayat-ayat Al-Qur’an, baru dapat dikatakan sebagai produk Interpretasi ketika beliau menyematkan teks asli (Al-Qur’an) yang menjadi titik tumpu kajian.
Lima Bentuk Teks Yang Dihadapi Penafsir
Gracia tidak hanya mengkaji interpretasi secara umum, melainkan juga mencermati bagaimana proses seseorang dalam memahami pemaknaan sebuah teks. Maka dari itu, Gracia membagi teks dalam lima bentuk yang berbeda;
1. Actual Text, teks-teks actual atau nyata merupakan objek dari penelitian para penafsir yang lebih cenderung mengarah pada teks historis, meskipun tidak menafikan untuk menafsirkan teks-teks kontemporer. Sebuah penafsiran yang pada hakikatnya membantu para audiens dalam memahami teks historis secara utuh.
2. Intermediary text, teks perantara adalah teks yang telah musnah tetapi jika ada informasi tentang keberadaannya, maka hal tersebut dapat membantu menjelaskan bagian-bagian yang hilang antar teks kontemporer yang dihasilkan pada waktu yang berbeda-beda.
3. Intended text, teks yang dimaksud.
4. Intended text dan Ideal Text, peran keduanya dalam proses interprestasi sebagai penguat ketika penafsir mengalami keraguan dalam memaknai text jika menemukan data-data yang dapat meyakinkannya.
5. Contemporary text, teks kontemporer penafsiran yang menyesuaikan dengan kondisi saat ini (modern).
Oleh: Lia Aulia
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan tafsir, Fakultas Ushuluddin. Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *