Setiap Kita Berhak Berhaji

Views: 18

Tulisan ini berangkat dari sebuah kritik para politikus tentang pengalihan separuh dari 20 ribu kouta tambahan ke ONH Plus pada penyelenggaraan haji tahun 2024. Kesan berbeda, justru mengantarkan penulis pada pandangan bahwa ini merupakan trobosan jitu yang dilakukan Kemenag pada hari ini. Mengapa demikian?

Kemarin penulis membaca status yang ditulis seorang petugas haji perempuan yang langsung turun di lapangan, ia melihat dengan kasat matanya realita perjuangan jamaah haji Indonesia hanya membuat hatinya semakin terenyuh. Rasanya berbeda sekali dengan postingan para selebritis yang berhaji dengan kemewahan yang mahal harganya.

Di saat ia melihat mbah-mbah sepuh berjuang dan harus berjalan dengan energi yang tersisa, kelelahan karena harus mengikuti rangkaian manasik dengan ketentuan Karom yang tak memikirkan jamaahnya untuk istirahat, nafas tersengal-sengal dan tubuh bergetar karena belum makan, sesak nafas dan lemas, harus melalui perjalanan dari tenda ke jamarat yang sangat jauh, bayangannya seketika melayang ke konten-konten instagram (IG) para selebgram yang super luxurious. Makanan bertebaran, tenda yang dekat dengan Haram dan Jamarat, outfit-outfit kece, selfie rombongan yang berkelas dan berbagai ekspresi kemewahan lainnya.

Setiap kali ia melewati tenda-tenda luxurious, bayangannya kembali mengajak ke tenda-tenda jamaah reguler di Mina yang cukup agak jauh. Bayangannya kembali mengajak kepada kasus-kasus menyedihkan dan membuat hatinya menjadi iba. Begitu terus. Terlihat kontras, tapi ya begitulah realitanya.

Misalnya, semalam ia menemukan satu rombongan ONH Plus yang sedang marah-marah karena dibuntuti oleh salah satu jamaah sepuh reguler yang terpisah dari rombongan saat jamarat. Pilihan untuk nempel ke jamaah ONH dinilai lebih selamat, dari pada sesepuh itu sendiri di tengah lautan manusia. Kemana jamaah ONH plus ini pergi lalu diikutinya, sampai jamaahnya merasa kesal, merasa terganggu. Niat sesepuh adalah ikut sampai maktab agar bisa dijemput oleh ketua rombongannya.

“Tolong mbak, Bapak ini dari sore sudah ngikutin kami. Kami jadi repot, dll. Udah ini saya serahkan ke petugas, capek betul ngurusin bapak ini”, begitu ujar salah satu ibu-ibu muda dengan muka jutek dan marah sembari makan es krim RB pada dini hari tadi.

Petugas haji perempuan ini langsung ambil aksi, mencoba cari solusi.

Di lain kesempatan, menemukan bapak-bapak sepuh berdiam diri sendiri hilang dari rombongan dengan tubuh gemetar, bingung mau kemana. Kalau gak gitu, menemukan rombongan lansia, betul-betul sepuh, berjalan thimik-thimik di tengah ganasnya cuaca Mekkah, tiduran di jalanan, pingsan, kaki melepuh karena berjalan jauh, sampai ada yg dibawa ambulance dll. Bahkan masih ada beberapa jamaah sepuh yang hilang belum juga ditemukan.

Petugas sekuat tenaga menyisir, membantu mengarahkan, bekerja sebisa yang mereka kerjakan. Karena petugas haji juga manusia, ada kalanya tubuh ini limbung. Negara nyatanya ada di setiap sudut-sudut Mekah untuk membantu mengamankan dan melindungi jamaah. Petugas haji perempuan ini saksinya. Semua berjibaku untuk menjadikan ibadah suci ini dapat berjalan dengan baik.

Bagi yang mampu, yang punya rezeki berlebih, silahkan pergi haji dengan furoda atau ONH Plus. Sebanyak-banyaknya lebih baik. Agar apa? Agar antrian jamaah reguler dapat berkurang. Sehingga kesempatan berhaji bagi mereka dengan rezeki pas-pas an dapat tercapai.

Tugas negara tidak mudah mengurus ribuan jamaah yang sudah ingin sekali pergi haji. Mereka yang berjibaku menabung hari demi hari, mereka yang dengan sabar mengais rezeki semampunya agak bisa ke tanah suci. Sampai menua, sampai jiwa raganya perlahan tergerus usia.

Terakhir, setiap kita, kaya atau miskin semua berhak untuk bermimpi haji. Semoga kita dimampukan ke tanah suci dengan jalur apapun yang baik dan tidak merugi.

Oleh: Zulfa Hudiyani, M. A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *