Ipar Adalah Maut; Badai Besar yang Bermula dari Angin yang Tak Terlihat

Views: 49

Beberapa tahun lalu ada serial Layangan Putus yang sanggup bikin penonton emosi gara-gara mas Aris. Kali ini Ipar Adalah Maut adalah ‘saudara’ layer lebarnya, yang juga sama-sama punya karakter bikin emosi bernama Aris. Konon, menurut sang penulis, film ini terinspirasi dari salah satu penggalan hadis yang menyebutkan bahwa ipar adalah maut (kematian) yang diangkat based on a true story. Matan hadisnya berbunyi:

 

عَنْ عُقْبَةَ بن عَامِرٍ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: ” إيِاَّكُمْ وَالدُّخُول عَلَى النِّسَاءِ ” فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ ‌الْحَمْوَ؟ قال: ” ‌الْحَمْوُ ‌الْمَوْتُ

 

Artinya: Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Berhati-hatilah kalian masuk (ke dalam ruangan) menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ipar?” Rasulullah bersabda, “Ipar adalah maut.”

 

Sinopsis Film

Film yang menceritakan tentang  perempuan bernama Nisa. Nisa adalah perempuan mandiri dan pekerja keras. Ia ditakdirkan untuk berjodoh dengan seorang dosen muda bernama Aris yang menjadi salah satu dosennya di kampus. Pada mulanya, kehidupan Nisa sangat bahagia, ia menjadi ibu sekaligus pengusaha roti yang sukses.

Namun, kebahagiaan rumah tangga Nisa dan Aris mulai diuji sejak adiknya, Rani, hadir ke dalam kehidupan mereka. Meski Rani adalah adik kandung Nissa, Aris tetap kalap saat melihat Rani yang beberapa kali tidak menutup aurat di depannya.

Begitu pun Rani, ia terpesona melihat kebaikan Aris yang menurutnya mampu mengisi kekosongan hidupnya dari sosok seorang ayah. Hingga akhirnya kedekatan mereka melampaui batas wajar hingga mengotori rumah tangga Aris dan Nisa dengan sebuah perselingkuhan.

 

Resensi Film

Aku merasa penulis naskah berusaha membuat drama Aris-Rani-Nisa senatural mungkin, dengan menampilkan kisah skandal yang jadi hidangan utama ini. Dipicu dari hal-hal ‘receh’ sejak awal. Asumsiku pun terjawab dengan pesan moral pada babak akhir (nonton dulu ya filmnya..hehe). Nah, part ini juga yang membuat temanku nangis ‘bombai’.

Penggodokan naskah yang terbilang cukup rapi dan matang. Ditambah pula acting Deva Mahendra menjadi kunci utama yang membuat film ini berefek psikologis terutama kepada banyak penonton perempuan. Deva memainkan sosok Aris dengan sangat baik, menampilkan  suami yang sangat  tidak tahu diri dengan merusak rumah tangganya sendiri.

 

Lalu, Apa Benar Ipar Sama dengan Maut?

Dewasa ini, masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami hubungan persaudaraan ipar, baik dari suami maupun istri. Mereka menganggap bahwa ipar adalah mahram sehingga batasan interaksi sosial seperti dengan yang bukan mahram tidaklah berlaku. Padahal, syariat sudah jelas menegaskan bahwa ipar hanya sekedar mahram muaqqat (mahram sementara).  Ini artinya, dari segi membatasi interaksi, saudari dari istri terhitung sebagai ajnabi (orang lain).

Namun, meskipun demikian dalam kitab Fath al-Bari syarah shahih al-Bukhari dijelaskan, sejatinya kata “الْحَمْوَ” tidak hanya bermakna ipar, melainkan juga; sepupu, mertua suami, mertua istri, dan keponakan. Imam Nawawi mengomentari dengan spesifik bahwa yang dimaksud dengan “al-hamwu” adalah semua kerabat suami dan istri selain anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dikarenakan anak-anak dan orang tua dari suami istri masih diperbolehkan untuk khalwat, berbeda dengan kerabat suami yang lain seperti halnya ipar.

Pada dasarnya, anjuran Rasulullah untuk hati-hati terhadap ipar bertujuan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, kecemburuan misalnya. Kecemburuan akan mengantarkan pada kerusakan agama yang lain, seperti perselingkuhan hingga perceraian.

Seorang hakim bernama Imam Iyadh berpendapat, seorang ipar berpotensi akan menimbulkan fitnah dalam sebuah keluarga dan matinya agama seseorang. Pendapat ini merujuk pada salah satu hadis Rasulullah saw. yang artinya “janganlah seorang laki-laki berkumpul (berkhalwat dengan wanita lain (yang bukan mahramnya) maka yang ketiga adalah setan.”

Beberapa ulama, termasuk Imam Nawawi, menilai larangan ini adalah larangan yang keras (taghlidh). Itu karena ipar memiliki kesempatan untuk sering berinteraksi di dalam rumah saudaranya yang sudah berumah tangga. Oleh karena itu, penting bagi suami istri untuk mengindahkan aturan syariat dan berhati-hati dalam interaksi sosial dengan lawan jenis, termasuk dengan ipar sendiri.

 

Lantas, Benarkah Semua Ipar Dianalogikan Sebagai Maut?

Kita mesti menyelidiki asbabul wurud (sebab munculnya) hadis ini,  kita akan menemukan bahwa maksud dari perkataan Rasululullah dilatarbelakangi dengan fenomena laki-laki pada masanya yang suka berkumpul dengan wanita yang bukan mahram. Sehingga mafhum mukhalafah dari hadis ini adalah jika interaksi antara ipar dengan suami kakaknya atau sebaliknya masih di dalam batas wajar dan sesuai dengan syariat Islam, maka ipar di sini tidak tergolong sebagai maut sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadis.

Dari film ipar adalah maut, banyak hal yang bisa dipelajari khususnya bagi pasangan suami istri. Di antaranya, pasangan suami istri harus sadar akan pentingnya batasan hubungan dalam keluarga. Welas asih antar sesama saudara boleh, namun sebisa mungkin menghindari dari satu atap dengan ipar lawan jenis, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini juga berlaku hanya ipar saja, namun semua orang lain yang bukan mahram.  Wallahu ‘alam

 

Oleh: Zulfa Hudiyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *